Ada masa ketika dunia berdengung dengan suara-suara tak kasat mata—ketika setiap gemerisik daun, setiap bisikan sungai menyimpan roh. Namun, seiring manusia mengukir kota mereka semakin dalam ke bumi, suara-suara itu semakin samar, terluka oleh asap dan kecerobohan.
Di tepi danau yang sekarat, seorang gadis kesepian bernama Lian menemukan sesosok peri terjerat kawat pancing, sayapnya yang tembus cahaya berjumbai bagai sutra yang robek. Namanya Rivulet, dan ia adalah roh air terakhir di danau itu. Ia membebaskannya, tanpa tahu bahwa tindakan itu akan mengikat takdir mereka.
Selama bertahun-tahun, mereka bertemu secara rahasia—Lian dengan lututnya yang berlumpur dan hatinya yang keras kepala, Rivulet dengan cahayanya yang berkelap-kelip dan lagu-lagunya yang sendu. Ia menunjukkan padanya luka-luka tersembunyi di bumi: hutan yang tercekik racun, lereng gunung yang terbelah mencari bijih besi. Ia, pada gilirannya, membawakannya roti berbentuk ikan dan kisah-kisah dunia manusia. Namun, sedekat apa pun mereka duduk, sebuah dinding tak kasat mata berdiri di antara mereka. Roh dan manusia tak pernah ditakdirkan untuk bersentuhan.
Lalu bumi berguncang. Sebuah mesin raksasa, yang haus akan mata air terakhir yang tak tersentuh, bergemuruh menuju danau. Cahaya Rivulet meredup seiring berlalunya hari.